"miris saya ngeliat kali penuh sampah. yang buang sampah biasa-biasa aja. padahal, coba liat, tukang yang bersihin sampah di kali, kasihan saya ngeliatnya."
kalimat di atas diucapkan oleh Pak Sudadi -supir taksi yang mengantarkanku pagi ini dari rumah menuju kantor. kalimat yang membuka dialogku dengannya. sebuah dialog ringan di pagi hari tentang kemanusiaan.
dialog yang membawaku pada suatu tingkatan yang sangat jarang terjadi dalam keseharianku. sebuah dialog tentang kemanusiaan yang membumi.
sepanjang perjalanan, Pak Sudadi, memaparkan pandangannya mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga Jakarta sehari-hari. mulai dari banjir yang tiap tahun pasti terjadi, kemacetan yang tiap hari pasti terjadi, hingga spanduk politisi yang mulai mengotori wajah kota. Pak Sudadi mengurai pikirannya dengan bahasa yang ringan, polos; apa adanya namun sarat makna. tidak ada satupun istilah hukum, atau kata-kata ajaib yang terucap dari mulutnya. berkebalikan tentunya dengan para aktifis HAM, pro-demokrasi atau apapun itu namanya mereka menyebut diri mereka. para aktifis yang seperti berlomba-lomba mengeluarkan kata-kata ajaib, istilah-istilah mengawang, mengutip sana mengutip sini; hendak menunjukkan pada dunia bahwa mereka telah membaca begitu banyak buku.
Pak Sudadi, mungkin boleh tidak mengerti apa itu tanggung jawab negara, apa itu abolisionis, apa itu protokol opsional, apa itu erga omnes. tetapi, hakikat kemanusiaan terpatri betul dalam pikirannya.
Pak Sudadi tidak perlu menjadi seorang aktifis HAM yang menguasai konsep hak atas hidup, untuk dirinya menentang hukuman mati. baginya, semua manusia sama. tidak ada yang berbeda. tidak ada yang unggul satu atas lainnya. bahwa satu manusia jahat, dan begitu kejamnya terhadap manusia lainnya, tidak menjustifikasi bahwa manusia jahat itu layak dicabut nyawanya. siapakah dia manusia yang berhak untuk itu, tanya Pak Sudadi?
Pak Sudadi tidak perlu membaca buku-buku feminis, tidak perlu bergaul dengan para aktifis perempuan untuk mengetahui apa itu jender. lebih jauh lagi, tidak perlu pula ia belajar di bangku lembaga penelitian apa itu kekerasan berbasis jender. baginya, kita semua, laki dan perempuan sama. saling menghargai sajalah, ungkapnya. dia percaya bahwa perempuan harus sebegitunya dihargai karena perempuanlah yang melahirkan manusia-manusia di dunia ini. jadi hargailah perempuan, lanjutnya. menciderai perempuan, adalah menciderai seorang ibu. apakah itu yang kita mau, tanyanya kembali.
kisah di atas mengantarku pada refleksi singkat tentang apa itu kemanusiaan. tahun ini adalah 60 tahun peringatan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Deklarasi menyebutkan bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di dunia. bahwa, pengabaian terhadap nilai-nilai dan memandang rendah hak-hak manusia telah mengakibatkan perbuatan-perbuatan bengis yang menimbulkan rasa kemarahan hati nurani (dan juga meninggalkan kepedihan mendalam bagi) umat manusia.
membaca Deklarasi tersebut dengan mata terpejam sungguh menyejukkan dan meneduhkanku. tetapi ketika kubukakan mata ini dan melihat realita, sepertinya kehidupan kita masih jauh dari kehidupan kemanusiaan yang beradab. masihkah kita memandang rendah sesama kita manusia? coba tanyakan pada setiap diri dari kita.
kita sudah pernah melihat betapa manusia dapat menjadi iblis dengan mudahnya, membantai jutaan manusia, menyiksa dengan kejamnya seorang anak manusia, membiarkan anak-anak mengemis di jalanan, juga menelantarkan jalanan kota penuh lubang. mengapa tidak kita mencintai sesama manusia. sulitkah hal itu dilakukan? sulitkah kita untuk menghargai nyawa seorang manusia?
kalimat di atas diucapkan oleh Pak Sudadi -supir taksi yang mengantarkanku pagi ini dari rumah menuju kantor. kalimat yang membuka dialogku dengannya. sebuah dialog ringan di pagi hari tentang kemanusiaan.
dialog yang membawaku pada suatu tingkatan yang sangat jarang terjadi dalam keseharianku. sebuah dialog tentang kemanusiaan yang membumi.
sepanjang perjalanan, Pak Sudadi, memaparkan pandangannya mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga Jakarta sehari-hari. mulai dari banjir yang tiap tahun pasti terjadi, kemacetan yang tiap hari pasti terjadi, hingga spanduk politisi yang mulai mengotori wajah kota. Pak Sudadi mengurai pikirannya dengan bahasa yang ringan, polos; apa adanya namun sarat makna. tidak ada satupun istilah hukum, atau kata-kata ajaib yang terucap dari mulutnya. berkebalikan tentunya dengan para aktifis HAM, pro-demokrasi atau apapun itu namanya mereka menyebut diri mereka. para aktifis yang seperti berlomba-lomba mengeluarkan kata-kata ajaib, istilah-istilah mengawang, mengutip sana mengutip sini; hendak menunjukkan pada dunia bahwa mereka telah membaca begitu banyak buku.
Pak Sudadi, mungkin boleh tidak mengerti apa itu tanggung jawab negara, apa itu abolisionis, apa itu protokol opsional, apa itu erga omnes. tetapi, hakikat kemanusiaan terpatri betul dalam pikirannya.
Pak Sudadi tidak perlu menjadi seorang aktifis HAM yang menguasai konsep hak atas hidup, untuk dirinya menentang hukuman mati. baginya, semua manusia sama. tidak ada yang berbeda. tidak ada yang unggul satu atas lainnya. bahwa satu manusia jahat, dan begitu kejamnya terhadap manusia lainnya, tidak menjustifikasi bahwa manusia jahat itu layak dicabut nyawanya. siapakah dia manusia yang berhak untuk itu, tanya Pak Sudadi?
Pak Sudadi tidak perlu membaca buku-buku feminis, tidak perlu bergaul dengan para aktifis perempuan untuk mengetahui apa itu jender. lebih jauh lagi, tidak perlu pula ia belajar di bangku lembaga penelitian apa itu kekerasan berbasis jender. baginya, kita semua, laki dan perempuan sama. saling menghargai sajalah, ungkapnya. dia percaya bahwa perempuan harus sebegitunya dihargai karena perempuanlah yang melahirkan manusia-manusia di dunia ini. jadi hargailah perempuan, lanjutnya. menciderai perempuan, adalah menciderai seorang ibu. apakah itu yang kita mau, tanyanya kembali.
kisah di atas mengantarku pada refleksi singkat tentang apa itu kemanusiaan. tahun ini adalah 60 tahun peringatan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Deklarasi menyebutkan bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di dunia. bahwa, pengabaian terhadap nilai-nilai dan memandang rendah hak-hak manusia telah mengakibatkan perbuatan-perbuatan bengis yang menimbulkan rasa kemarahan hati nurani (dan juga meninggalkan kepedihan mendalam bagi) umat manusia.
membaca Deklarasi tersebut dengan mata terpejam sungguh menyejukkan dan meneduhkanku. tetapi ketika kubukakan mata ini dan melihat realita, sepertinya kehidupan kita masih jauh dari kehidupan kemanusiaan yang beradab. masihkah kita memandang rendah sesama kita manusia? coba tanyakan pada setiap diri dari kita.
kita sudah pernah melihat betapa manusia dapat menjadi iblis dengan mudahnya, membantai jutaan manusia, menyiksa dengan kejamnya seorang anak manusia, membiarkan anak-anak mengemis di jalanan, juga menelantarkan jalanan kota penuh lubang. mengapa tidak kita mencintai sesama manusia. sulitkah hal itu dilakukan? sulitkah kita untuk menghargai nyawa seorang manusia?
written by Ricky Gunawan from Community Legal Aid Institute

No comments:
Post a Comment